Sunday, June 22, 2014

Blue Economy dalam Pengembangan Perikanan dan Kelautan Indonesia

Kuliah Umum dalam rangka Silaturahmi Him­punan Mahasiswa Per­ikanan dan Kelautan (Himapikani) Wilayah IV ber­temakan “Blue Economy dalam Pengem­bangan Per­ikanan dan Kelautan Indonesia” yang ber­lang­sung di Aula Gedung Fakul­tas Tek­nik Univer­sitas Brawijaya (UB), Minggu (8÷6)  oleh Men­teri Kelautan dan Per­ikanan RI Sharif C. Sutardjo yang juga dihadiri oleh Pem­bantu Rek­tor III UB Ir. H.R.B. Ainurr­rasyid, MS

Indonesia seba­gai negara kepulauan jum­lah pulau sebanyak 17.504. Ber­ada pada posisi geo-strategis dengan kurang lebih 40% lalu lin­tas per­dagangan barang dan jasa melin­tasi per­airan Indonesia, 20 % trans­por­tasi yang melin­tasi selat Malaka dan 70% produksi minyak dan gas nasio­nal dari wilayah pesisir dan lautan Indonesia. Sum­ber daya hidrokar­bon khusus­nya minyak dan gas yang ter­sedia di 60 titik cekungan juga masih cukup besar. Dengan potensi kelautan Indonesia, pesisir dan pulu-pulau kecil, baik ber­upa Sum­ber Daya Alam ter­barukan seperti per­ikanan, Biota laut maupun Sum­ber Daya Alam non ter­barukan seperti mineral, minyak dan gas perlu adanya per­baikan maupun pengem­bangan sek­tor kelautan di Indonesia.

Kon­ferensi CTIFF (corol timer inisiatif dan food security) adalah pen­ting bagi dunia untuk meng­olah alam ini secara ber­sama, dengan meres­mikan sek­retariat ber­sama yang disetujui 6 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Solomon Island, Timor Leste, Papua Nugini, Indonesia didukung Aus­tralia , Amerika Serikat untuk meles­tarikan segi tiga ter­umbu karang dian­tara 6 negara seba­gai paru-paru dunia seperti amazon di brazil dan flora fauna di afrika.

Pengem­bangan per­ikanan dan kelautan ber­basis Blue Economy, Sharif memamarkan bahwa sis­tem ekonomi kon­ven­sio­nal sudah tidak mampu menyerap kon­sep hakiki pem­bangunan ber­kelan­jutan. “Dengan budaya eks­ploitatif serta keter­batasan sum­ber daya alam memun­culkan per­ubahan paradigma dari sis­tem ekonomi kon­ven­sio­nal ke Green Economy dimana sis­tem ter­sebut telah cukup mampu men­dorong sys­tem enves­tasi low car­bon, resource efficient, clean, waste minimizing and ecosys­tem enhan­cing activities, tetapi sis­tem ekonomi yang ber­laku dilihat seperti adanya dan kurang menyen­tuh akar per­masalahan. Kon­sep blue economy men­con­toh alam, bekerja sesuai dengan apa yang disediakan alam dengan efisien, tidak meng­urangi tapi jus­tru mem­per­kaya alam”, bebernya.

Sesuai dengan visi misi Kemen­trian Kelautan dan Per­ikanan Indonesia yaitu pengem­bangan kelautan dan per­ikanan yang ber­daya saing dan ber­kelan­jutan untuk kesejahteraan masyarakat dian­taranya adalah dengan pengem­bangan kawasan ekonomi kelautan dengan pen­dekatan blue economy.

Tujuan visi misi kemen­terian kelautan dan per­ikanan yaitu Menyadari kekuatan besar potensi lautyang dikelola dengan baik untuk memajukan pem­bangunan masyarakat sesuai program 4 pilar pem­bangunan nasio­nal yaitu probrof, proin­ver­ment, propore dan projob. Dengan tujuan mening­katkan nilai tam­bah dan daya saing produk kelautan dan per­ikanan serta mening­katkan value added untuk bisa men­sejahterakan masyarakat.

Sumber : ub.ac.id

0 comments:

Post a Comment